_
Latest Post

Anda Sudah Memiliki Mulazim...?

Written By AnaK ALaM on Selasa, Maret 04, 2014 | 20.52

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
(Seseorang itu mengikuti perilaku kekasihnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa orang yang berkasih-kasihan dengannya)[1]

Ibnu Mas’ud ra berkata:
((Nilailah manusia dengan saudara-saudara mereka!))[2]

Dan sungguh telah dikatakan:
Jangan bertanya tentang seseorang (tetapi) bertanyalah tentang kawan dekatnya
(karena) setiap teman mengikuti temannya

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
(Sesungguhnya Allah tidak pernah mengutus seorang nabi atau (mengangkat) seorang khalifah kecuali baginya ada dua bithanah; bithanah yang memerintahkannya berbuat baik dan mencegahnya berbuat mungkar. Dan bithanah yang tidak berhenti mendorongnya pada kerusakan. Dan barang siapa dijaga dari bithanah yang buruk maka sungguh ia benar-benar terjaga)[3]

(Bithanah) bithanah seseorang adalah orang khususnya, penasehatnya, dan gudang simpanan rahasianya. Dialah orang yang  dipercaya oleh seseorang untuk diberitahukan akan rahasia-rahasia. Ia diserupakan dengan pakaian bagian dalam.

Kalimat (La Ta’luuhu Khabaala). Alaa (Ya’luu) fil amri,memperpendek urusan. Maksudnya tidak berhenti merusak urusannya. Ini diambil dari firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil menjadi teman kepercayaanmu, orang-orang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”[4]

Maksud ayat ini adalah bahwa mereka (orang-orang munafiq) tidak pernah berhenti mendatangkan kerusakan kepada kalian. Dan terkadang kerusakan itu dalam perbuatan, tubuh dan akal fikiran[5]. Dalam riwayat Imam Bukhari disebut hadits yang artinya: “Allah tidak mengutus seorang nabi atau mengangkat seorang sebagai khalifah kecuali baginya ada dua bithonah; bithonah yang menyuruh dan menganjurkannya kepada kebaikan serta bithonah yang menyuruh dan mendorongnya pada keburukan. Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah”[6]

Di sini adalah pernyataan akan keselamatan Nabi shallallahu alaihi wasallam dari hal tersebut sebagaimana diisyaratkan oleh sabda beliau: “…tetapi Allah menolongku (bisa mengalahkanya) sehingga aku selamat”[7]

Sementara seorang da’i sangat membutuhkan bithanah yang biasa disebut seorang Mulazim sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Dan tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah mendapatkan keletihan karena perjalanan kita ini ”[8]  dan firman Allah: “Jikalau kalian tidak menolongnya (Rasulullah Saw) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedang dia adalah orang kedua dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih karena sesungguhnya Allah bersama kita”[9]

Dan khususnya mulazim wanitanya (mulazimah) yaitu isterinya, maka di sini marilah mendengar secara seksama kisah sahabat mulia Abul Haitsam At Tayyihan al Anshari seperti diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dalam sunan nya[10].


= والله يتولي الجميع برعايته =


[1] HR Abu Dawud no 4833. HR Turmudzi no 2378 dari Abu Hurairah ra
[2] Lihat Tafsir al Qurthuby tafsir QS Ali Imran:118
[3] HR Turmudzi no 2474
[4] QS Ali Imran:118
[5] At Tafsir al Wadhih 1/17 DR Muhammad Mahmud Hijazi
[6] HR Bukhari no 7198 Kitab al Ahkam bab (41) Bithonatul Imam wa Ahli Masyurotihi dari Abu Said al Khudri ra
[7] Tuhfatul Ahwadzi 7/38
[8] QS al Kahfi 60-62
[9] QS at Taubah:40
[10] Hadits ni 2474 Bab Maisyah Ash haab  an Nabiyy Saw

Kenangan Indah

Written By shfm on Minggu, Desember 08, 2013 | 10.42






Allah tabaraka wata’ala berfirman: “Dan jadikanlah untukku buah tutur kata yang baik di (kalangan) orang-orang yang datang kemudian!”QS As Syu’ara’:84.
Nabi Ibrahim alaihissalam memohon kepada Allah agar sebutan dan tuturan baik tentang dirinya langgeng di kalangan generasi-generasi yang akan datang sesudahnya karena beliau sangat senang jika itu bisa betul-betul terjadi dan menjadi kenyataan yang sebenarnya. Hal ini mencakup permohonan kelanggengan dan menutup amal secara sempurna serta permohonan berupa tersebarnya pujian baik di mana pasca ia wafat, maka ini merupakan menu bagi rohnya karena pujian baik akan mengantarkan manusia yang telah mengenal (sosoknya) untuk mendo’akannya sebagai penghargaan atas kesucian hati, kesempurnaan tauhid, kepasrahan diri, pengorbanan dan kesuksesannya menyempurnakan kalimat-kalimat yang diujikan kepadanya.
Sungguh Allah ta’ala telah menjadikan para nabi dan rasul alaihimussalaam berasal dari anak keturunan Nabi Ibrahim as. Mereka senantiasa menyebutnya dan begitu pula halnya dengan umat-umat pengikut mereka. Dan kiranya sebutan beliau juga langgeng di kalangan umat Nabi Muhammad Saw dalam berbagai situasi:
1.      Amalan-amalan haji
2.      Idul Adha dan muatan di dalamnya yang berupa penyembelihan hewan kurban
3.      Do’a Iftitah dalam shalat
4.      Shalawat Ibrahimiyyah sesudah tahiyyat akhir
5.      Berkhitan karena mengikuti millah nya
Itu semua bukan sekedar untuk kenangan tetapi karena di dalamnya bisa diambil pelajaran dan mengingat sesuatu hal yang memang perlu terus diulang-ulang sebagaimana dikatakan; [Dalam pengulangan terjadi penetapan (pemantapan) dan dalam penetapan terjadi penerangan/pencerahan].
Imam Malik, seperti disebutkan oleh Imam Ibnul Araby, mengatakan:
(Bukanlah sebuah masalah ketika seseorang suka jika mendapatkan pujian baik serta terlihat sedang melakukan amalan orang-orang shaleh selama itu bertujuan karena Allah yaitu yang disebut pujian yang baik)[3]
Dalam bahasan lain:
(Sesungguhnya hal itu tidak masalah jika awalnya karena Allah. Maksudnya tujuan pertama beramal adalah karena Allah) sebagaimana dikatakan: “Jika niat dasar sudah benar maka tidak akan terhalang (terpengaruh) kejadian-kejadian (atau hal apapun)”
Sungguh Allah telah berfirman: “...Dan Aku telah melimpahkan atas dirimu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku”QS Thoha:39.
Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membimbing kita dalam do’a beliau: “...dan jadikanlah diriku disenangi dalam hati para hambaMu...” serta sabda beliau: “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan orang-orang mati kalian dan tahanlah diri kalian dari (menyebutkkan) keburukan mereka”HR Abu Dawud-Turmudzi .
Imam Syathibi mengatakan: Imam al Ghazali berprinsip bahwa masalah ini atau yang serupa telah keluar dari keikhlasan dengan catatan apabila menjadikan aktivitas (beramal) terasa lebih ringan (lebih bersemangat) baginya disebabkan tujuan-tujuan ini. Adapun Imam Ibnul Araby lebih memilih sebaliknya (tetap dalam koridor ikhlas)[4]. Dalam masalah seperti inilah kita jadi mengingat arahan Sayyidi al Walid Abuya al Habib Muhammad Alawi al Maliki al Hasani yang mengatakan: “Masing-masing tergantung kondisinya”. Kemudian jika seseorang memuji anda dengan pujian yang baik maka termasuk tatakramanya adalah anda mengucapkan: “Segala puji bagi Allah Dzat Yang Menampakkan yang baik dan Menutup yang buruk”

=والله يتولى الجميع برعايته=




[1]  تفسير التحرير والتنوير 146/9
[2]  تفسير التحرير والتنوير 82/9

[3] Tafsir at Tahrir wat Tanwir 9/146
[4] Tafsir at Tahrir wat Tanwir 9/82


الذِّكْرُ الْجَمِيْلُ
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَاكِيًا عَنْ دُعَاءِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ:
[وَاجْعَلْ لِيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى اْلآخِرِيْنَ] الشعراء:84.
سَأَلَ اللهَ تَعَالَى إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَقَاءَ لِسَانٍ صَادِقٍ وَذِكْرٍ لَهُ حَسَنٍ فىِ الْأَجْيَالِ الْآتِيَةِ مِنْ بَعْدِهِ لِأَنَّهُ يَرْغَبُ فِى تَحَقُّقِهِ وَوُقُوْعِهِ فِى نَفْسِ الْأَمْرِ. وَهَذَا يَتَضَمَّنُ سُؤَالَ الدَّوَامِ وَالْخِتَامِ عَلَى كَمَالِ الْعَمَلِ وَطَلَبِ نَشْرِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ حَيْثُ يَتَغَذَّى بِهِ الرُّوْحُ بَعْدَ مَوْتِهِ لِأَنَّ الثَّنَاءَ عَلَيْهِ يَتَعَدَّى دُعَاءَ النَّاسِ لَهُ جَزَاءَ مَا عَرَفُوْهُ مِنْ زَكَاءِ نَفْسِهِ وَكَمَالِ تَوْحِيْدِهِ وَإِسْلاَمِ وَجْهِهِ وَتَضْحِيَتِهِ وَإِتْمَامِهِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي ابْتُلِيَ بِهَا.
وَقَدْ جَعَلَ اللهُ تَعَالَى فِى ذُرِّيَّتِهِ أَنْبِيَاءَ وَرُسُلاً يَذْكُرُوْنَهُ وَتَذْكُرُهُ الْأُمَمُ التَّابِعَةُ لهم وَيُخْلَدُ ذِكْرُهُ لَدَي اْلأُمَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ فىِ شَتَّى الْمَوَاضِعِ مِنْهَا:
1-           أَعْمَالُ الْحَجِّ
2-           عِيْدُ الْأَضْحَي وَمَا فِيْهِ مِنْ ذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ
3-           دُعَاءُ الْإِفْتِتَاحِ فِى الصَّلاَةِ
4-           الصَّلاَةُ الْإِبْرَاهِيْمِيَّةُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ الْأَخِيْرِ
5-           الْإِخْتِتَانُ اتِّبَاعًا لِمِلَّتِهِ
وَلَيْسَ ذَلِكَ لِمُجَرَّدِ الذِّكْرَي بَلْ فِيْهِ أَخْذُ عِبْرَةٍ وَتَذْكِيْرٌ فِيْمَا فِيْهِ شَأْنُ التَّكْرِيْرِ وَقَدْ قِيْلَ: (فِى التَّكْرِيْرِ يَحْصُلُ التَّقْرِيْرُ وَفِى التَّقْرِيْرِ يَحْصُلُ التَّنْوِيْرُ)
قَالَ ابْنُ الْعَرَبِي :قَالَ مَالِكٌ: لاَ بَأْسَ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ أَنْ يُثْنَي عَلَيْهِ صَالِحًا وَيُرَي فِى عَمَلِ الصَّالِحِيْنَ إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْهَ اللهِ وَهُوَ الثَّنَاءُ الصَّالِحُ[1]. وَفِى عِبَارَةٍ أُخْرَى: إِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ إذا كَانَ أَوَّلُهُ للهِ ايْ القَصْدُ الْأَوَّلُ مِنَ الْعَمَلِ للهِ تَعَالَى كَمَا قِيْلَ: (إِذَا صَحَّ أَصْلُ النِّيَّةِ لَمْ تَعْتَرِضْهُ الْعَوَارِضُ) وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: [وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّيْ وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِيْ] طه:39.
وَقَدْ أَرْشَدَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فىِ دُعَائِهِ [...وَاجْعَلْنِي مَحْبُوْبًا فِى قُلُوْبِ عِبَادِكَ...] وَفِي قَوْلِهِ: [اذْكُرُوْا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ وَكُفُّوْا عَنْ مَسَاوِئِهِمْ] رواه أبو داود والترمذى.
قَالَ الشَّاطِبِي: (...وَقَدِ الْتَزَمَ الْغَزَالِي فِيْهَا وَفِى أَشْبَاهِهَا أَنَّهَا خَارِجَةٌ عَنِ اْلإِخْلاَصِ لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَصِيْرَ الْعَمَلُ أَخَفَّ عَلَيْهِ بِسَبَبِ هَذِهِ الْأَغْرَاضِ وَأَمَّا ابْنُ الْعَرَبِي فَذَهَبَ إِلَى خِلاَفِ ذَلِكَ[2]).
وَفِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يُذَكِّرُنُا تَوْجِيْهُ سَيِّدِي الْوَالِدُ أَبُوْيَ الْحَبِيْبُ مُحَمَّدٌ عَلَوِي الْمَالِكِي الْحَسَنِي حَيْثُ يَقُوْلُ: كُلٌّ عَلَى حَسَبِ حَالِهِ. ثُمَّ مِنَ الْأَدَبِ إِذَا أَثْنَي عَلَيْكَ إِنْسَانٌ بِذِكْرٍ جَمِيْلٍ  أَنْ تَقُوْلَ لَهُ: الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَظْهَرَ الْمَلِيْحَ وَسَتَرَ الْقَبِيْحَ.
=والله يتولى الجميع برعايته=


Tidak Ada Alasan Merasa Aman

Written By shfm on Jumat, Desember 06, 2013 | 00.00





بسم الله الرحمن الرحيم



Allah tabaaraka wata’ala berfirman:
“Dan bacakanlah kepada mereka tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya  ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya...”QS al A’raf:175-176.

Sesungguhnya do’a pertama yang diajarkan Allah kepada para hambaNya yang berserah diri (kaum muslimin), yaitu orang-orang yang Allah telah Memilih mereka di antara makhlukNya, adalah firman Allah yang artinya; “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, maksudnya teguhkan kami di atas jalan itu dan langgengkan ia untuk kami. Akan tetapi nikmat memang terkadang dihilangkan dari orang yang tidak bisa menghargai dan tidak pula mau menjaganya. Karena itulah Allah ta’ala berfirman: “...nanti Kami akan memberikan kepada mereka lanjuran nikmat yang lupa tersyukuri  dengan cara yang tidak mereka ketahui”QS al A’raf:182. Maksudnya Kami menyempurnakan nikmat-nikmat atas mereka sekaligus juga melalaikan mereka dari bersyukur, juga sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Kamu berbaik sangka kepada hari-hari kala ia (terus memberikan) kebaikan
Sementara kamu tidak pernah mengkhawatirkan hal yang datang bersama  takdir
Malam-malam berlalu dengan keselamatan sehingga kamu pun terbuai
Sehingga pada suatu malam terjadilah kekisruhan itu

Dan seperti dikatakan dalam kata hikmah:
Tidaklah burung itu terbang dan meninggi kecuali juga terbang dan (lalu) terjatuh

Bila demikian halnya maka tidak ada alasan apapun untuk merasa aman, melupakan kesyukuran, dan membiarkan diri untuk tidak memelas memohon perlindungan (Allah). Bagaimana mungkin kita merasa aman, sedangkan:
-           al Khalil Ibrahim as saja masih memohon kepada Allah: “...dan jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari menyembah berhala-berhala”QS Ibrahim:35.
-          Yusuf As Shiddiq saja memohon kepada Allah: “...wafatkanlah dakuu dalam keadaan berserah diri (kepadaMu) dan gabungkanlah diriku dengan orang-orang shaleh”QS Yusuf:101.

Jadi, betapa kita begitu membutuhkan, benar-benar sangat membutuhkan akan keteguhan dalam agama pada situasi masa yang genting ini. Dan sungguh dikatakan dalam kata hikmah:

Pasti ada pengganti bagi segala sesuatu yang anda tinggalkan
Tetapi tidak ada pengganti bagi Allah, jika kamu meninggalkanNya
Jika dunia masih menyisakan agama bagi seseorang
maka segala sesuatu yang terlepas darinya sama sekali tidaklah membahayakan

Adalah Sufyan at Tsauri rahimahullah mengatakan:
Tidaklah seorang merasa aman dari bahaya agama kecuali agama itu tercabut (darinya)

Dan tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang terbina kecuali harus meneguhkan hatinya atas islam, sesuatu yang telah ditetapinya pada saat ini dengan menjalankan hal-hal yang telah direkomendasikan pada taushiah kami terdahulu sehingga ia memiliki dua simpanan besar yang mahal harganya berupa ISTIQAMAH dan ISTIZADAH (terus mencari tambahan) supaya nikmat-nikmat itu langgeng baginya, tidak merasa takut akan kehilangan sekaligus diberikan tambahan nikmat-nikmat yang belum pernah diberikan sehingga iapun tidak perlu khawatir tidak akan bisa mendapatkannya, serta datang pula dari Allah sesuatu yang sama sekali tidak terlintas dalam hatinya, disertai permohonan yang terus menerus kepada Allah dalam suasana sendiri atau bersama orang lain, berupa;

Ya Tuhan kami, jangan sesatkan hati kami setelah Engkau Memberikan petunjuk kepada kami. Dan anugerahkan kepada kami rahmat hanya dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi rahmat”
Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepadaMu keteguhan dalam urusan, tekad bulat dalam kebenaran. Saya memohon kepadaMu bisa mensyukuri nikmatMu, Saya memohon kepadaMu kebaikan ibadah kepadaMu. Saya memohon kepadaMu hati yang selamat (dari penyakit). Saya memohon kepadaMu lidah yang jujur. Saya memohon kepadaMu kebaikan segala sesuatu yang Engkau mengetahuinya. Saya memohon perlindungan kepadaMu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau Mengetahuinya.  Dan saya memohon ampunan atas dosa (ku) yang Engkau mengetahuinya. Sesunguhnya Engkaulah Maha Mengetahui hal-hal yang gaib”

Wahai Dzat yang meneguhkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu!”

=والله يتولى الجميع برعايته=



لاَ سَبِيْلَ إِلَى الْأَمْنِ
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:                                                                                      [وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ.] الأعراف: 175-176.
إِنَّ أَوَّلَ دُعَاءٍ عَلَّمَهُ اللهُ تَعَالَي عِبَادَهُ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ اصْطَفَاهُمْ مِنْ بَيْنِ خَلْقِهِ هُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى: [اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ] اي ثَبِّتْنَا عَلَيْهِ وَأَدِمْهُ لَنَا ,وَلكِنَّ النِّعْمَةَ قَدْ تُسْلَبُ مِمَّنْ لاَ يَعْرِفُ قَدْرَهَا وَلاَ يَرْعَاهَا وَلِذلِكَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: [سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُوْنَ] الأعراف:182. اي نُسْبِغُ عَلَيْهِمُ النِّعَمَ وَنُنْسِيْهِمُ الشُّكْرَ كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:
(أَحْسَنْتَ ظَنَّكَ بِالْأَيَّامِ إِذْ حَسُنَتْ# وَلَمْ تَخَفْ سُوْءَ مَا يَأْتِي بِهِ الْقَدَرُ)
(وَسَالَمَتْكَ اللَّيَالِي فَاغْتَـــــــرَرْتَ بِهَا # وَعِنْدَ صَفْوِ اللَّيَالِي يَحْدُثُ الْكَدَرُ)
وَكَمَا قِيْلَ: مَا طَارَ طَيْرٌ وَارْتَفَعَ إِلاَّ كَمَا طَارَ وَقَعَ
فَإِذَنْ لاَ سَبِيْلَ إِلَى اْلأَمْنِ وَإِغْفَالِ الشُّكْرِ وَتَرْكِ الْإِبْتِهَالِ فِى الْحِفْظِ بِحَالٍ. وَكَيْفَ نَأْمَنُ وَإِبْرَاهِيْمُ الْخَلِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَقُوْلُ: [...وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ] إبراهيم: 35. وَيُوْسُفُ الصِّدِّيْقُ يَقُوْلُ: [تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِيْنَ] يوسف:101. فَمَا أَحْوَجَنَا أَمَسَّ الْحَاجَةِ إِلَى الثَّبَاتِ فِى الدِّيْنِ فِى هَذَا الْعَصْرِ الرَّاهِنِ وَقَدْ قِيْلَ:
(لِكُلِّ شَيْءٍ إِذَا فَارَقْتَهُ عِوَضٌ# وَلَيْسَ للهِ إِنْ فَارَقْتَ مِنْ عِوَضِ)
(إِذَا أَبْقَتِ الدُّنْيَا عَلَى الْمَرْءِ دِيْنَهُ # فَمَا فَاتَهُ مِنْهَا فَلَيْسَ بِضَائِر)
وَكَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِي رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَقُوْلُ: (مَا أَمِنَ أَحَدٌ عَلَى دِيْنِهِ إِلاَّ سُلِبَ)
وَمَا عَلَى الْمُسْلِمِ الْوَاعِي إِلاَّ أَنْ يُثَبِّتَ قَلْبَهُ عَلَي مَا عَلَيْهِ فىِ الْحَالِ مِنَ الْإِسْلاَمِ بِمَا ذُكِرَ مِنْ تَوْصِيَتِنَا السَّابِقَةِ حَتَّي يَظْفَرَ بِالْكَنْزَيْنِ الْعَزِيْزَيْنِ اللَّذَانِ هُمَا الْإِسْتِقَامَةُ وَالْإِسْتِزَادَةُ فَتَدُوْمُ لَهُ النِّعَمُ وَلاَ يَخْشَي زَوَالَهَا وَتَتَزَايَدُ لَهُ النِّعَمُ الَّتِي لَمْ تُعْطَ فَلاَ يَخْشَي فَوَاتَهَا وَيَأْتِي مِنَ اللهِ مَا لَمْ يَكُنْ فِى بَالِهِ مَعَ دَوَامِ ابْتِهَالِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى حَيْثُ يَقُوْلُ فِى خَلَوَاتِهِ وَجَلَوَاتِهِ [رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ] [أَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِى اْلأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ, وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ] [يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ]

=والله يتولى الجميع برعايته=






 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nurul Haromain - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger