Meski tertatih tetapi dirimu harus tegar.
Oleh Ibnu Alwan
Kurang lebih dua puluh lima tahun silam guruku ada ditempat yang mulia ini (baca makkah al mukarramah), sekarang tiba giliran diriku untuk mengikuti jejak langkah yang telah dilaluinya.Mungkin belum pantas aku mengatakan bahwa diriku telah menyamai dalam derap langkah yang dilaluinya, yang pantas ku katakan saat ini hanyalah kesamaan tempatnya saja dimakkah al - mukarramah.
Bagaimana tidak, kesemangatan para guru tidak seperti kesemangatan kami, kerja keras dalam menuntut ilmu guru juga tidak seperti diri kami, serta beliau berangkat kesini sudah alim dan menggunung ilmu, sedang kami tak ubahnya pelajar taman kanak - kanak yang masih buta akan ilmu yang ada.
Masih bingung menentukan langkah ini, akan dibawa kemana derap langkah tujuan ini.
Seakan gontai dalam menapakkan kaki yang seakan kelu disini, karena harapan untuk seratus persen dalam dunia ilmu seakan kandas.
Bagaimana lagi, inilah kehidupan yang harus dijalani, bukanlah dihindari.
Terperanjat dari sebuah lamunan, seakan ada gertakan memory perkataan para guru yang selalu terngiang dalam pesan nasihat yang disampaikan.
Perjuangan dalam mencari ilmunya sampai sempat dijuluki " kang siang malam " karena pakaian hanya punya satu pasang saja, sebagai buruh masak untuk temannya.
Sampai pernah akar pisang selama seminggu.
Semua dilalui dengan tabah dan kesabaran, tanpa meninggalkan aktivitas belajarnya.
Ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi segala ujian.
Tidak hanya disitu, tatkala pindah belajar dimekkah pun mengalami perjuangan yang tak kala beratnya.
Menjadi juru angkat nasi buat teman - teman sepondoknya dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer.
Dengan nasi yang masih panas diangkat diatas kepalanya.
Sedang kami, yang mungkin fasilitas sudah jauh sekali lebih lengkap saat ini, mengapa aku meski bingung dan merasa putus asa dengan segalanya.
Mengapa aku sulit syukur terhadap nikmat berada dikota suci makkah?.
Mengapa juga aku gelisah dengan keadaan mencari ilmu yang pindah - pindah tanpa didampingi dan diawasi para guru selama dua puluh empat jam saya.
Bukankah guru hanya pengantar saja, meski ditunggu dengan raga kalau jiwa tidak senada , apa gunanya.
Toh juga semuanya merupakan pendidikan dalam lingkup berbeda.
Saat ini sungguh lebih berwarna jika ditelaah secara seksama akan perjalanan pendidikan diriku.
Meski hanya dipandang sebelah mata, karena kami tiada bersandar dengan nama besar seorang guru, akan tetapi disinilah diriku dididik untuk menjadi diri sendiri tanpa terpaksa dalam berjalan.
Berjalan dengan keikhlasan dan hamasah ( kesemangatan ) yang muncul tanpa paksaan.
Belajar mengemban akan amanah pribadi masing - masing dengan semua tanggung jawab yang dipikulnya.
Justru disini juga diri ini seolah ada didunia sesungguhnya yang mana dengan heterogenitas kemauan dan juga tujuan.
Tanpa kita saling mengecam akan tujuan orang yang bersebelahan.
Seolah diri ini dididik oleh perjalanan kehidupan untuk menghormati akan perbedaan.
Belajar juga akan kepekaan sosial masyarakat luas tanpa ada orang yang dirugikan.
Meski terkadang tak jarang kami harus rela jalan kaki menempuh tempat belajar untuk sekedar menghemat uang.
Enam kilometer dengan jalan kaki, tengah malam dalam kesendirian juga harus dijalani hanya sekedar untuk menyirami hati kerontang dan menggapai ketenangan.
Yah, inilah perjuangan , inilah kehidupan, inilah belajar dalam meniti sebuah kesejatian.
Tak pantas diri ini untuk hanya mengeluh dengan kerasnya kehidupan yang ada.
Karena para guru justru lebih keras perjuangannya daripada hanya sekedar yang diri ini jalani.
Kami hanya berharap , meski diri ini belum bisa dikatakan dalam jajaran pencari ilmu.
Kami cukup senang dengan menjalani segalanya dengan format Tuhan.
Harapan kami hanyalah berkah dari para guru, ridlo para guru meski kami dikejauhan, dan senang kami terhadap para pencari ilmu yang sungguh - sungguh meski kami sendiri belum masuk dalam jajarannya.
Kami juga menyimpulkan bahwa disetiap lini kehidupan adalah pendidikan.
Guru anda saat ini adalah sebuah pengalaman, guru anda adalah kenyataan dan bukanlah bayangan.
Walaupun guru dhohir yang tampak dan juga tarbiyahnya sangat diperlukan.
Akan tetapi jangan gundah tatkala kita tidak bisa selalu bersamanya.
Para guru juga akan mentarbiyah ( mendidik ) anda dalam kejauhan melewati mediasi doanya.
Yang terpenting jaga adab dan akhlak disetiap langkah.
Meski tak dipandang manusia sekitar biarlah, karena semua adalah bukan tujuan.
Tetaplah semangat, ikhlaslah dalam berjalan, maka sejarah akan mengatakan.
" maa kaana lillahi yabqoo, wa maa kaana lighorillah yafnaa ", semua yang dilakukan ikhlas karena Allah maka ia akan kekal selamanya, dan sesuatu yang dilakukan bukan karena Allah maka akan lenyap begitu saja.
( Kamis 27 Rojab 1434 H. Ribath jawa misfalah, makkah al mukarramah ).
Kado untuk seseorang yang hari ini ultah ke 29 , tak terasa 27 Rojab 1405 H silam telah berlalu , tetaplah senyum dan tegar dalam menapaki sisa umur anda, tetaplah semangat.
Semoga Allah selalu memberkahi umur anda.
Blogger Comment
Facebook Comment