Ketika Iman dan Amal Shaleh Berpadu
Alloh Subhaanahuu wata’aalaa berfirman :
إِنَّ الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُ الرَّحْمنُ وُدًّا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, untuk mereka
Allah Maha Pengasih akan menjadikan kecintaan (di hati para hamba)" (QS Maryam;96)
Analisa Ayat
Sebagaimana dimengerti bahwa Iman memiliki sekian banyak konsekuensi. Banyak
hal yang harus disandingkan dengan Iman. Hal demikian telah dijelaskan oleh
baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam; "Iman memiliki 60 lebih
cabang; yang paling tinggi adalah Laa ilaah illallah dan yang paing rendah
adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan". Cabang-cabang ini yang
menjadi tanda kehidupan Iman secara singkat dan dalam bahasa lain adalah Amal
Shaleh. Jadi Iman harus disertai dengan Amal shaleh. Amal shaleh menjadi begitu
penting ketika tanpanya Iman menjadi kering dan dalam waktu singkat sangat
mungkin akan segera roboh. Ibarat pohon, Iman adalah akar dan batangnya.
Sementara amal shaleh adalah air yang memberinya kehidupan dan menjadikannya
berdaun rimbun serta berbuah lebat. Di sinilah akal menemukan salah satu hikmah
betapa banyak ayat suci Alqur'an yang menyandingkan Iman dengan Amal Shaleh.
Bahkan pada beberapa ayat juga sekaligus disertakan dorongan, janji pahala dan
faedah bagi mereka yang mampu menyandingkan dan memadukan Iman dengan Amal
Shaleh. Di antara faedah yang dimaksud antara lain seperti disebutkan dalam
ayat di atas yang berupa Wudd, kasih sayang dan rasa cinta di hati para hamba.
Wudd di atas secara tiba-tiba memang ditanamkan Allah di hati para hamba
sehingga terjadilah peristiwa betapa mereka begitu bersimpati kepada seseorang
meski tidak pernah mengenal atau menerima kebaikan dari orang tersebut. Wudd
ini semata adalah pancaran cahaya cinta dan kasih sayang Allah kepadanya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الله إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ فَقَالَ
يَاجِبْرِيْلُ إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ . فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ ثُمَّ يُنَادِي فِى أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ
الله يُحِبُّ فُلانَاً فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ
يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِى اْلأَرْضِ ...
"Sesungguhnya ketika Allah telah Mencintai seorang hamba, Dia berseru
kepada Jibril", "Hai Jibril, sesungguhnya Aku Mencintai seseorang maka
cintailah ia" Jibril pun mencintainya. Kemudian ia berseru di kalangan
penduduk langit, "Sesungguhnya Allah Mencintai seseorang maka silahkan
kalian mencintainya" Penduduk langit pun mencintainya sehingga lalu
diletakkan untuknya Qabul (penerimaan) di (kalangan penduduk ) bumi…" (HR
Ahmad).
Abu Darda' ra berkirim surat kepada Maslamah bin Mukhallad yang kala itu
menjadi gubernur di Mesir. Surat ini berisi, "Salam sejahtera atas anda.
Amma ba'du. Sesungguhnya jika seorang hamba menjalankan ketaatan kepada Allah
maka Allah pasti mencintainya. Ketika Allah telah mencintainya maka Dia akan
Menjadikan para hambaNya menjadi para pecintanya. Sesungguhnya jika seorang
hamba melakukan kemaksiatan maka Allah pasti membencinya dan bila Allah
membencinya niscaya Dia akan menjadikan para hambaNya ikut serta membencinya." (Disebutkan oleh Imam Baihaqi dalam al Asma' was Shifaat)
Agar buah ini bisa dihasilkan, sebagian ahli makrifat memberikan petunjuk
pentingnya seorang muslim yang terbina mewajibkan diri untuk memiliki jiwa yang
pemurah (Sakhawatunnafsi), hati yang bersih dari penyakit (Salamatus shadri),
serta kasih sayang kepada makhluk Allah seluruhnya (Rahmatul Ummah). Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Kalian tidak pernah beriman
sehingga kalian saling mengasihi" para sahabat bertanya, "Kita semua
adalah manusia penyayang" Beliau bersabda, "Sungguh bukanlah seperti
kasih sayang salah seorang dari kalian kepada temannya, melainkan kasih sayang
kepada sesama seluruhnya" (HR Thabarani).
Sebagian ahli makrifat juga menjelaskan bahwa kecintaan Allah yang berarti
kecintaan semua makhluk pasti didapatkan oleh seseorang yang mampu menumbuhkan
dalam dirinya lima hal berikut; 1) setia (Wafa') pada janji, 2) menjaga dan
mengindahkan batasan-batasan, 3) rela dengan apa yang ada, 4) sabar akan
sesuatu yang telah hilang, 5) menurut kepada Dzat yang disembah.
Al Wudd ini didapatkan oleh seseorang karena dengan ini semua, disertai dengan
ikhlash, shidiq dan raghbah, ia telah berdiri dalam Maqam Ubudiyyah, sebuah
maqam yang merupakan aktivitas dan tugas (Wazhifah) Ahlul Iman. Apalagi jika ia
juga telah sampai pada Maqam Ubuudah, maqam yang merupakan aktivitas dan tugas
(Wazhifah) Ahlul Ihsan, yaitu ketika ia telah sirna melupakan dirinya serta
amal ketaatan yang dilakukannya. Allah berfirman, "Tetapi Allah-lah yang
memberikan anugerah atas kalian karena Dia telah Menunjukkan kalian kepada
keimanan" (QS al Hujurat:17). "Dan tidak-lah kamu melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar" (QS al Anfaal: 170). Di bawah kedua
maqam ini adalah Maqam Ibadah; yaitu ketaatan berupa menjalankan perintah dan
meninggalkan larangan yang merupakah aktivitas dan tugas (Wazhifah) Ahlul Islam
.
Selain mendapatkan kecintaan (al \wudd) para hamba yang menjadi tanda kecintaan
Allah azza wajalla, seorang yang telah berhasil memadukan Iman dan Amal sholeh
juga akan mendapatkan buah lain yang juga tidak kalah lezat dan menyegarkan.
Buah lain itu ini adalah khidupan yang baik (al Hayah at Thayyibah).Allah
ta'alaa berfirman: "Barang siapa beramal shaleh baik lelaki atau perempuan
dan dia seorang yang beriman maka sungguh niscaya Kami akan memberinya
kehidupan yang baik dan niscaya Kami akan memberikan balasan pahala yang lebih
baik daripada yang telah mereka kerjakan" (QS An Nahl:97.
Al Hasan al Bashri berkata: "Kehidupan yang baik adalah Qana'ah" atau
dengan bahasa lain kekayaan hati. Said bin Juber dan Atha' berkata:
"Kehidupan yang baik adalah rizki yang halal". Mujahid dan Qatadah
berkata: "Kehidupan yang baik adalah surga karena surga adalah kehidupan
tanpa kematian, kekayaan tanpa kemiskinan, sehat tanpa sakit, kekuasaan yang
tidak pernah hancur, dan keberuntungan tanpa kesengsaraan". Allah
berfirman: "Dan tiadalah seorangpun tahu apa yang disembunyikan untuk
mereka yaitu (bermacam-macam ni'mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" (QS As Sajdah: 17).
Baca Artikel Lainnya : "Dibalik Kekurangan ada Kelebihan"
Sebenarnya masih banyak lagi buah yang didapatkan oleh seorang yang mampu menggabungkan Iman dan Amal shaleh seperti halnya kekuatan firasat atau dengan bahasa lain insting yang kuat dan tajam atau mimpi-mimpi yang sering menjadi kenyataan yang dalam bahasa hadits biasa disebut dengan Mubassyiraat dan ditegaskan sebagai bagian daripada Nubuwwah.
Mungkin buah-buah tersebut mampu melecut semangat untuk mendapatkannya, akan
tetapi harus disadari bahwa menggabungkan Iman dan Amal shaleh merupakan
aktivitas yang berat. Perlu proses untuk menuju ke sana. Dan bila sudah bisa
dilakukan pun sangat mungkin tidak bisa bertahan lama kecuali jika memang perangkat
menuju ke sana telah dilengkapi dan alat keamanan untuk menjaganya betul-betul
canggih. Sarana dan alat tersebut adalah adanya dorongan dari orang lain baik
guru, orang dekat, komunitas jamaah dll seperti ditegaskan Allah dalam
firmanNya, "Demi masa. Sesungguhnya Manusian dalam kerugian kecuali orang
yang beriman, beramal shaleh dan saling berwasiat akan kebenaran dan
kesabaran" (QS al Ashr). Ayat ini memberikan ajaran betapa manusia seluruhnya
sengsara kecuali yang beriman. Keimanan pun masih dalam bahaya jika tidak
disertai amal shaleh. Amal shaleh tidak pernah akan eksis, berkesinambungan dan
meningkat kecuali ada stimulan yang berupa saling memberikan wasiat dan
dorongan.
Ibarat seorang pencari ilmu yang kegilaannya menjadikan dirinya berusaha sekuat
tenaga mencari ilmu dan mengembangkan pengetahuan dengan berbagai media yang
bisa dilakukan. Begitulah kiranya seorang yang memiliki tekad untuk
menggabungkan Iman dan Amal shaleh. Ia tidak pernah akan bosan mamacu diri
dengan berbagai sarana yang bisa dilakukan baik dengan rajin mengikuti kajian
atau menjalani hidup di tengah komunitas yang penuh dengan aktivitas ibadah
"Tabahkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyembah Tuhan mereka di
waktu siang dan malam..." (QS al Kahfi: 28).
Seperti dimaklumi bersama bahwa naluri beragama telah tertanam dalam diri
setiap manusia. Hanya saja untuk bisa terlihat,naluri ini perlu mendapatkan
stimulasi. Mengikuti kajian dan hidup dalam sebuah komunitas Jamaah dengan
seorang guru pembimbing adalah usaha menguatkan stimulan tersebut. Semakin kuat
maka semakin gencar pula amal shaleh dilakukan dan begitu pula sebaliknya.
Akhirnya bisa disimpulkan bahwa keinginan menggabungkan Iman dan Amal Shaleh
sebagai syarat mendapatkan buahnya (al Wudd, al Hayat At Tahyyibah, al Mubasysyirat
dan Quwwatul Firasat) hanyalah sebuah keinginan jika sarana dan alat meraih
keinginan tersebut belum terwujud.
= والله يتولي الجميع برعايته =
Blogger Comment
Facebook Comment