AT TAFAKKUR IBADAH


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imron [3] :191)

Ibadah
Ayat ini dimulai dengan kondisi orang-orang yang selalu mengigat Alloh dalam setiap keadaan, kemudian mereka memikirkan keadaan makhluk-makhluk Alloh. Dari ayat ini bisa kita ambil ibarot bagi seorang muslim untuk mengawali semua model dan bentuk pemikiran sebagai cara untuk berdzikir atas kekuasaan Alloh.
 Pikiran merupakan anugrah besar yang diberikan Alloh kepada Manusia. Sebagai seorang Muslim sudah semestinya kita mensyukurinya. Nah... salah satu cara kita untuk mensyukuri nikmat tersebut adalah membiasakan untuk mengoptimalkan kemampuan kita berfikir dalam ilmu dan kebaikan.
Ayat di atas mendorong kita untuk selalu berfikir. Tradisi berfikir akan memperkuat potensi diri karena bukankah perubahan, perbaikan dan pengembangan diri selalu dimulai dari pikiran kita ?.
“Kekuatan kepribadian kita akan terbangun saat kita mulai memikirkan fikiran-fikiran kita sendiri, memikirkan cara kita berfikir, memikirkan kemampuan berfikir kita dan memikirkan bagaimana seharusnya kita berfikir ...” (Anis Matta).

Ayat di atas juga memberikan gambaran tentang hubungan antara fikiran, kesadaran dan tindakan. Lihatlah bagaimana proses berfikir tentang alam dan kehidupan yang dilakukan oleh seorang mampu melahirkan kesadaran dan keteguhan keimanan.
Alhasil setiap kita harus mampu menciptakan tradisi berfikir dalam diri kita. Kita menyadari bahwa kita memiliki otak, tetapi jarang menggunakan fikiran itu. Sebagai contoh, mungkin kita secara fisik sedang belajar, tetapi pikiran kita kemana-mana. Mungkin kita sedang mencatat tapi tidak memahaminya. Lalu... bagaimana kita bisa menikmati proses pembelajaran kita ?.
Berfikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decisin making) guna memecahkan masalah (prolem solving) dan menghasilkan sesuatu yang baru (creativity). Bukankah Al Qur'an senantiasa mengingatkan kita dengan kalimat “Afalaa tatafakkaruun?” (tidakkah kamu memikirkannya ?). Dorongan ini memacu kita untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Nah untuk mengembangkan kemampuan berfikir kita perlu mengetahui proses belajar kita. Hal-hal berhubungan dengan proses berfikir diantaranya adalah :
1. Daya serap. Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk memahami sesuatu berupa gagasan, pikiran, peristiwa, benda, fenomena atau obyek lain secara jernih, obyektif dan tepat.
2. Daya rekam. Kemampuan itu terkait dengan memory kita. Ia melewati tiga proses utama yaitu perekaman (encoding), penyimpanan (storage) dan pengambilan kembali informasi (retreival).
3. Daya Analisis. Kemampuan menganalisa dan membuat kaitan-kaitan untuk kemudian mengklarifikasikan dan menyusunya. Proses ini akan mengantarkan pada kemampuan selanjutnya yaitu kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru.
4. Daya cipta atau kreasi. Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk melahirkan gagasan-gasagan baru. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan menyelesaikan masalah, membuat keputusan serta karya karya baru.
'Ala kulli haal, kita perlu mengembangkan kemampuan berfikir ini dengan beberapa macam cara yang dapat kita tempuh untuk merangsang kemampuan berfikir, seperti : melakukan penguatan diri  (Self felnforcing). Maksudnya, segala sesuatu yang menjadikan kita nyaman dan puas sehingga kita lebih termotivasi untuk melakukan sesuatu. Penguatan diri yang baik tidak berasal dari orang lain tapi dari dorongan diri sendiri.
Selain itu, keterbukaan terhadap ide (openness to idea), artinya ia harus terbuka terhadap ide-ide baru. Alloh menciptakan otak manusia dengan empat fungsi yaitu : menyerap, menyimpan, menganalisis dan mengekspresikan. Jadi otak tidak hanya sekedar gudang penyimpananan.
Bentuklah pola kebiasaan ilmiyah. Pola kebiasaan ternyata sangat mempengaruhi kemampuan berfikir seseorang. Selain itu kelolalah emosi kita karena “ At Best we can all think like logicians all think like Us.”

KEUTAMAAN BERFIKIR
Dalam kitab Ruuhul Bayan  disebutkan terdapat 2 keutamaan berfikir yaitu :
1. Dengan berfikir, kita akan bisa mengenal Alloh sedangkan Ibadah akan menyampaikan kita pada pahala Alloh. Perkara yang menyampaikan kita pada Alloh (berfikir akan keagungannya) lebih utama dari pada perkara yang menyampaikan kita pada selain Alloh.
2. Berfikir itu termasuk amalan hati sedangkan ketaatan adalah amalan tubuh. Hari sendiri itu lebih utama dari pada anggota tubuh, maka amalan dengan hati itu lebih utama jika dibandingkan dengan amalan dengan anggota tubuh.
Tidak kalah pentingnya lagi adalah kemampuan kita dalam memilih dan memilah sumber informasi serta model pemikiran yang kita pakai. Seorang dengan pendamping atau guru spiritual akan mampun mencapai titik tertinggi dalam potensi berfikir karena ia memiliki landasan berfikir yang kuat.

Hal ini sangat berbeda dengan seseorang yang hanya mengandalkan kemampuan berfikir dari dirinya sendiri yang mana akan membawa unsur subyektifitas yang kuat. Bahkan beberapa ilmuan tersesat dalam kerangka berfikirnya sehingga keilmuan yang dibangun  malah semakin menjauhkan diri dan pengikutnya dari kebenaran sejati.
Sejarah tidak terbantahkan bisa kita lihat dari hasil pemikiran ilmuan muslim yang bertahan hingga beberapa abad dan menjadi dasar keilmuan modern di dunia Eropa hingga beberapa dekade. Hasil berfikir mereka kaya akan kreativias baru dan segar.
Semuanya tidak lain dan tidak bukan adalah keberkahan dari menggunakan kaidah berfikir islamiyyah sebagai landasan berfikir. Tidak hanya untuk dunia ini mereka berkarya melainkan untuk kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Bukankah sebuah kebijaksanaan manakala kita menggunakan standar berfikir yang Islami, dimana hasil akhirnya adalah untuk mengagungkan dan mengimani Alloh yang menjadi sumber ilmu ?.


PP Nurul Haromain Lin Nisa' (POPI)
(Kajian Kamis Sore)
Ustad. Syihabuddin Syifa

Share on Google Plus

About tdmenha pujon

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment