Dosa Memicu Bencana
Sudah menjadi kehendak Allah bahwa senang dan susah pasti datang silih berganti mengisi kehidupan manusia di muka bumi ini. Meski begitu karena kasih sayang Allah yang begitu kuat mengalahkan kemarahanNya maka bisa dirasakan betapa kesusahan jarang sekali datang. kehidupan manusia lebih banyak diliputi dengan keamanan, kesehatan, dan serba kecukupan. Juga termasuk kelembutan Allah (luthfillah) bahwa hal yang tidak menyenangkan berupa siksaan, ujian dan bencana dalam tubuh serta harta benda manusia pada awalnya besar, kemudian mengecil dan akhirnya menghilang. Berbeda dengan ujian (fitnah) agama yang pada mulanya kecil, perlahan-lahan membesar, terus membesar hingga akhirnya menjadi banjir yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Ujian berupa silih bergantinya kesenangan dan kesusahan ini bertujuan agar manusia selalu kembali kepada Allah. “...Dan Kami menguji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk agar mereka kembali”
Seperti halnya ujian berupa nikmat-nikmat yang bisa datang dari langit dan bumi, “dan andaikan saja penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi... “ maka seperti itu pula halnya ujian berupa keburukan, siksaan dan bencana sebagaimana Allah berfirman:
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ, اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْأيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ
“Katakanlah: “Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Lihatlah bagaimana Kami mendatangkan tanda-tanda (kebesaran Kami) agar mereka memahami”
Ayat ini menyebut empat arah datangnya siksaan Allah:
- Dari atas, maksudnya siksaan berupa hujan batu, banjir bandang, topan dan sambaran petir. Ada pula yang mengatakan bahwa siksa dari atas adalah para penguasa zhalim .
- Dari bawah, maksudnya gempa bumi dan dibenamkan ke dalam tanah seperti dialami oleh Qarun. Mungkin juga termasuk gunung meletus.
- Hati yang berbeda dan akhirnya berpecah belah, tidak bersatu dan saling bermusuhan satu sama lain sebagaimana kisah Khabbab bin al Arott ra:
Sesungguhnya ia terus mengawasi Rasulullah Saw (yang sedang shalat) semalam suntuk. Ketika fajar menjelang, dan Rasulullah Saw salam maka Khabbab mendekat dan bertanya: “Demi ayah dan ibuku, sungguh saya tidak pernah melihat engkau melakukan shalat seperti pada malam ini?!” Rasulullah Saw bersabda:
أَجَلْ إِنَّهَا صَلَاةُ رَغَبٍ وَرَهَبٍ سَأَلْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا ثَلَاثَ خِصَالٍ فَأَعْطَاني ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً . سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُظْهِرَ عَلَيْنَا عَدُوًّا مِنْ غَيْرِنَا فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يُهْلِكَنَا بِمَا أَهْلَكَ بِهِ الْأُمَمَ فَأَعْطَانِيْهَا وَسَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَلَّا يَلْبِسَنَا شِيَعًا فَمَنَعَنِيْهَا
“Memang, itu adalah shalat pengharapan dan kekhawatiran. Aku memohon tiga hal kepada Tuhanku. Dia pun memberiku dua hal dan menolak satu hal. Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghancurkan kita dengan hal yang dengannya Dia menghancurkan umat-umat (sebelum kita), maka Dia memberikannya kepadaku. Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak memberikan kemenangan kepada musuh dari selain kita atas kita, maka Dia memberikannya kepadaku. Dan aku memohon kepada Tuhanku agar tidak mencampurkan kita dalam golongan-golongan, maka Dia menolaknya dariku”
Dampak ketika berpecah belah adalah kelemahan dan akhirnya musuh pun bisa masuk, mencampur aduk dan mengadu domba kita.
- Sebagian merasakan keganasan sebagian yang lain. Ini adalah kelanjutnya dari berpecah belah yang kemudian terjadi peperangan dan saling membunuh.
Empat arah datangnya siksaan tersebut tentu saja dipicu oleh ulah manusia sendiri yang selalu saja berbuat dosa dan tak kunjung sadar, menyesal dan memohon ampunan kepada Allah. Allah berfirman:
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوْبِكُمْ

Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِيْ أُمَّتِيْ عَمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ
“Jika maksiat–maksiat telah tampak (mendominasi / merajalela) di kalangan umatku maka Allah akan meratakan siksa dari sisiNya kepada mereka” HR Ahmad
Kelanjutan dari Hadits ini adalah: Aku (Ummu Salamah) bertanya: Wahai Rasulullah, bukankan di kalangan mereka pada saat itu ada manusia–manusia saleh? Nabi Saw menjawab: ”Ia” Lalu bagaiman dengan mereka?, tanya Ummu Salamah. Nabi Saw menjawab: “Mereka juga tertimpa apa yang menimpa manusia, kemudian mereka akan dikembalikan kepada ampunan dan ridha Allah”.
Baca Artikel Lainnya : "Biografi Habib Abdulloh bin Alawi al-haddad"
Pada banyak tempat telah terjadi bencana. Mungkin tempat dan lingkungan kita masih aman–aman saja. Pertanyaan kita sekarang, bukankah pada masa ini manusia di seluruh belahan bumi tidak terpisah secara budaya, meski secara geografis mereka terisolir?. Pertanyaan ini memang benar, saat ini budaya manusia seakan tidak pernah terpisah, mereka memang tinggal berjauhan, tetapi budaya mereka sama, di mana–mana di setiap tempat, sudut kota dan desa, di tengah sungai, lautan dan di atas gunung maupun di dalam hutan kemaksiatan mudah sekali ditemukan. Jadi jika berbicara masalah hak, mereka semua berhak tertimpa bencana. Hanya ada dua jawaban kenapa sementara ini ada daerah yang masih belum tertimpa bencana;
- Adanya Imla’ atau Imhaal (penundaan) dari Allah, “Dan janganlah orang–orang kafir menyangka bahwa sesungguhnya Kami menunda (siksaan) atas mereka itu lebih baik bagi mereka, sungguh Kami menunda adalah hanya karena supaya dosa mereka bertambah–tambah, dan bagi mereka siksaan yang hina” Nabi Saw bersabda:
إِنَّ اللهَ لَيُمْلِيْ لِلظَّالِمِ حَتَّي إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِـتْهُ
- Masih banyaknya di daerah tersebut sesuatu hal yang menjadikan Adzab atau siksaan serta bencana tidak diturunkan. Hal ini merupakan anugerah besar Allah, di mana Dia juga mengabarkan kepada para hamba sesuatu yang bisa menolak atau menepis bencana.
Sesuatu itu antara lain;
- Istighfar, “… dan Allah tiada akan pernah menurunkan siksa kepada mereka selama mereka mau ber Istighfar” . Nabi Saw bersabda yang artinya: “Seorang hamba aman dari siksa Allah selama mau beristighfar”
- Rasulullah Saw. Keberadaan beliau Saw juga menjadikan para sahabat serta orang–orang yang hidup dekat dengan Beliau tidak akan pernah tertimpa bencana, “Dan Allah tiada akan pernah menyiksa mereka sementara kamu (Muhammad Saw) ada di antara mereka…” , Nabi Saw bersabda yang artinya: “Allah menurunkan dua keamanan kepadaku untuk umatku, Dan Allah tidak akan menyiksa mereka sementara kamu ada di antara mereka, dan ketika aku meninggal maka aku tinggalkan untuk mereka Istighfar sampai pada hari kiamat” ,
- Dzikir, fungsi dzikir sebagai penepis Adzab di tegaskan oleh sebuah hadits riwayat Muadz bin Jabal ra bahwa Nabi Saw bersabda:
مَاعَمِلَ ءَادَمِيٌّ عَمَلاً قَطُّ أَنْجَي لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ تَعَالَي مِنْ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Anak tidak beramal apapun yang paling bisa menyelamatkannya dari siksa Allah dari pada berdzikir kepada Allah”
Realitas bahwa amalan-amalan seperti istighfar, dzikir, do’a dan segala bentuk ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Allah sebagai amalan paling ampuh menolak bencana juga dinyatakan oleh Allah dalam firmanNya:
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاءُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُوْنُ لِزَامًا
“Katakanlah; Tuhanku tidak mengindahkanmu andai saja bukan karena ibadahmu.(tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya) padahal kamu sungguh telah mendustakanNya, karena itu kelak azab pasti menimpamu”
= والله يتولي الجميع برعايته =
Blogger Comment
Facebook Comment