Dakwah Da’i dan Hidayah Allah
مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
“Barang siapa yang Allah memberinya petunjuk maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk. Dan barang siapa yang Allah menyesatkannya maka mereka itulah orang-orang yang merugi” (QS al A’raaf:178)
Analisa Ayat
Ayat ini menegaskan satu hakikat bahwa hidayah (petunjuk) dan dhalalah (kesesatan) sepenuhnya menjadi hak Allah. Allah berkehendak memberikan dan mencegah kepada dan dari siapapun orang yang dikehendaki-Nya. Terkhusus hidayah, maka perlu diingatkan kembali di sini bahwa ia memiliki beberapa jenis:
a. Al Hidayah al Aammah
Maksud dengan hidayah ini adalah hidayah taklim dan irsyad, petunjuk bagi seluruh makhluk kepada segala sesuatu yang membuat kehidupan, penghidupan dan segala urusannya berjalan baik sebagaimana difirmankan Allah:
وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَي
“dan Dzat yang telah menentukan lalu menunjukkan”
b. Hidayatut Taklif
Karena hidayah taklif inilah Allah lalu mengutus para rasul alaihimussalaam untuk menyampaikan-nya kepada manusia. Hidayah inilah yang kelak menjadi alasan (hujjah) bagi Allah di mana tidak akan menyiksa seseorang kecuali setelah hidayah ini sampai dan diperdengarkan kepadanya. “...para rasul yang memberi kabar gembira dan peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia kepada Allah setelah para rasul (datang kepada mereka)” . Maka barang siapa yang tidak mau menerima hidayah taklif, akan dipertanyakan kepadanya di sisi Allah karena ia telah menyesatkan diri dari hidayah Allah. Ia akan disiksa sebab kesesatan yang diikutinya.
c. Hidayatut Taufiq
Allah berfirman: “lalu Allah menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan menunjukkan orang yang dikehendaki-Nya” . Artinya sesungguhnya Allah menyesatkan orang -orang yang dikehendaki-Nya, yaitu mereka yang berpaling dari hidayatut taklif. Penyesatan ini dinamakan pula dengan Khidzlan . Dan sebaliknya Allah memberikan petunjuk kepada orang yang menerima hidayatut taklif di mana petunjuk ini kemudian dinamakan taufiq.
Begitu pentingnya manusia memperoleh seluruh macam hidayah dari Allah maka kitapun diajarkan memohon hidayah dan agar bisa teguh menetapinya minimal dalam sehari 17 kali dalam shalat fardhu dan minimal dua belas kali dalam 12 rakaat shalat sunnah rawatib:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”

فَإِنْ أَعْرَضُوْا فَمَآ أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا, إِنْ عَلَيْكَ إِلاَّ الْبَلاَغُ
“Jika mereka berpaling maka Kami tidaklah mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka. kewajib-anmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)…”
Ini sebagaimana perintah agar setiap orang (khususnya seorang da’i) yang memiliki kemampuan dan kesempatan memberikan pertolongan supaya memberikan pertolongan itu kepada orang lain yang membutuhkan tanpa terbebani apakah nanti pertolongan yang ia berikan bisa bermanfaat memenuhi kebutuhan orang lain atau bisa menyelamatkannya dari bahaya dan kesulitan. Artinya Ia harus berkomitmen memberikan pertolongan tanpa berfikir pada hasil akhir. Hal yang terpenting adalah menjalani proses. Abu Musa al Asy’ari ra meriwayatkan:
Baca Artikel Lainnya : "Profesional Dalam Segala Hal"
"Adalah Rasulullah Saw setiap kali kedatangan orang yang memiliki kebutuhan maka beliau menghadap orang-orang yang sedang duduk bersamanya lalu bersabda:
اشْفَعُوْا تُؤْجَرُوْا وَيَقْضِي اللهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا أَحَبَّ
“Berikanlah pertolongan maka kalian akan mendapatkan pahala. Dan Allah senantiasa memutuskan, melalui lisan nabi-Nya, apa yang Dia suka”
Penegasan Allah di atas menjadi penting karena pada kenyataannya seorang da’i tulen yang telah berdakwah dengan serius dan penuh semangat, pasti merasa sangat bersedih hati dan berat terasa olehnya ketika menyaksikan dakwah yang dilakukan tidak memperoleh hasil seperti yang ditargetkan. Artinya penegasan ini merupakan bentuk tasliyah, pelipur lara dari Allah kepada para rasul, pada Rasulullah Saw dan orang-orang yang mewarisi dakwah mereka. Kepada Rasulullah Saw, Allah azza wajalla berfirman:
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“Kiranya kamu akan membunuh dirimu (sendiri) karena mereka tidak mau beriman?!”
Syekh Ahmad Mushthafa al Maraghi dalam tafsirnya (19/45-46) menjelaskan dua makna ayat ini:
“Apakah kamu akan membunuh dirimu sendiri karena sedih dan sangat menyesalkan realitas islam yang terlewat dari kaum mu?!” “Janganlah kamu membunuh dan menghancurkan dirimu sendiri karena meratapi mereka yang tidak mau beriman” Padanan ayat ini adalah firman Allah; “...maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka... “
Kemudian pada lanjutan ayat Allah menjelaskan alasan mengapa seorang da’i dilarang merugikan diri sendiri: “Jika Kami menghendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka suatu tanda (mukjizat) dari langit, sehingga menjadilah kuduk-kuduk mereka tunduk kepada tanda itu” . Artinya jika saja Kami berkehendak niscaya Kami menurunkan atas mereka tanda dari langit yang bisa memaksa mereka untuk beriman. Akan tetapi telah berlaku sunnah dari Kami agar keimanan terwujud melalui proses memilih (Ikhtiyari) dan bukan dengan proses pemaksaan sebagaimana Allah berfirman:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِى الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّي يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang di muka bumi beriman seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman”
Karena itulah Kami mengutus para utusan yang datang dengan membawa nasehat-nasehat sekaligus juga larangan-larangan serta pula Kami menurunkan kitab-kitab yang bisa menunjukkan mereka ke jalan yang benar. Akan tetapi mereka tersesat dan berusaha menyesatkan orang lain. Maka tiadalah Tuhanmu berlaku zhalim kepada makhlukNya.
Demikianlah, para da’I, sekali lagi hanya dituntut menjalankan proses tanpa berfikir pada target. Tentu saja proses itu wajib dijalani dengan semangat, jujur dan ikhlash. Dengan prinsip-prinsip ini In sya Allah dakwah, meski seperti berjalan lambat, pasti akan memperoleh hasil. Ibarat keong, karena lurus menatap ke depan dan istiqamah berjalan akhirnya sampai juga pada tujuan. Dalam hikmah dikatakan:
مَنْ أَخْلَصَ للهِ ظَهَرَتْ بَرَكَةُ أَثَرِهِ
=والله يتولي الجميع برعايته=
Blogger Comment
Facebook Comment