Jeratan Arus Fitnah
Di riwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Gambaran yang jelas ujian yang di ibaratkan dengan penggalan malam yang gelap gulita. Sedemikian pekatnya gelap sampai pada tingkat tak bisa di bedakan antara sebuah hal yang baik (sholah) dan jelek (fasad), terjadi merata dimana-mana, dan berlangsung secara terus menerus.
Fitnah itu menyebabkan sebuah perubahan yang dahsyat dan cepat dalam sebuah zaman. Seseorang tak mampu menahan laju arus fitnah yang demikian deras dan kuat itu, mereka tak mampu menguasai diri sehingga terseret arus."
Seorang muslim yang memiliki keimanan sempurna saja bisa jadi juga terseret arus fitnah yang merongrong itu, pada akhirnya seorang mukmin yang terseret arus fitnah itu memiliki sekian kemungkinan, bisa jadi ia berubah drastis sampai menjadi benar-benar kafir, atau jika tidak, ia menjadi seorang mukmin yang tak tahu bersyukur dengan sekian kenikmatan yang dianugerahkan Allah, atau barangkali seorang mukmin menjadi mirip dengan orang kafir, atau mungkin seorang mukmin itu sebab arus fitnah itu ia sampai berbuat amal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang kafir.
Kita bisa membaca keadaan, bahwa sekarang kaum muslimin dimana-mana tak lagi bangga dengan keislaman yang ia sandang. Mereka berani menjual agama demi mendapatkan bagian dari dunia. Seorang muslim sudah tak bisa lagi diukur perbuatannya, mereka melakukan perbuatan yang baik dan sekaligus perbuatan jelek, mereka seolah melakukan sunnah akan tetapi juga sekaligus melakukan bidah, semangkuk bubur telah tercampur dengan kotoran.
Dimana-mana kita melihat seorang muslim melakukan sebuah kejahatan akan tetapi mereka tak menganggapnya lagi sebagai sebuah kejahatan, sehingga mereka enggan melakukan taubat dan istighfar. Kolaborasi perang yang dilancarkan oleh watak dan nafsu kini berhasil memukul mundur pertahanan agama, di dukung lagi oleh hadirnya setan selepas itu, sempurnalah ia dalam jeratan setan, watak, dan nafsu. Seorang mukmin sudah tak lagi peduli dengan Allah, mereka seringkali meremehkan-Nya. antum yaumaidzin katsir, wahn.... hubbuddunya wakarohiyatul maut...
Illa man rohima robbuk... Agama semestinya di dakwahkan, di sampaikan kepada ummat. Akan tetapi kini yang terjadi dimana-mana justru kejahatan yang berkedok agama. Orang-orang seolah semangat dalam membangun yayasan, pesantren, panti asuhan, atau lembaga 'agamis' yang lain tapi ternyata semua itu hanya di latar belakangi spirit duniawi. Sarana-sarana itu ternyata hanya supaya mereka mudah mengumpulkan uang, media yang pas untuk mendapatkan status sosial, sebuah hal yang progresif untuk mendulang banyaknya pengikut dan kekuasaan. Kita lihat dimana-mana seorang penceramah yang memasang tarif dalam ceramahnya, sampai ketika amplop yang diberikan panitia keliru dengan nota pasir, ia tak merasa malu dan sungkan untuk menyampaikan hal itu kepada panitia.
Seseorang sudah tak lagi menganggap penting mengaji, persetan dengan duit halal, tak acuh untuk mencari karib karena Allah. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana menghasilkan duit yang melimpah. Dunia menjadi hal yang diperebutkan oleh siapa saja dimana-mana, padahal dunia adalah sebuah hal yang dijauhkan dari Rahmat Allah. Rasulullah menyampaikan: Addunia mal'unah mal'unun ma fiha...
Baca Juga : Rahasia Puasa Bagian Tiga
Kini semua hal dijual belikan, seorang yang sebenarnya kalah bisa dimenangkan dengan menyerahkan sejumlah uang. Calon mahasiswa yang tak masuk seleksi bisa dengan mudah dimasukkan dengan membayar sekian uang.
Seorang Kyai kini sampai berani mendukung dengan sebegitu semangat pencalonan presiden seorang Cina kafir. Dengan jargon yang ia gembar-gemborkan bahwa, "Lebih baik dipimpin kafir tapi jujur, dari pada muslim tetapi koruptor." Meski seorang Kyai jangan pernah kita ikuti jika semacam ini. Bukankah seorang Syeikh Abdul Qadir al Jailany sempat di datangi setan yang menjelma yang menghalalkan baginya perbuatan haram. Dan selepas itu setan mengaku telah berhasil menggelincirkan sekian orang alim sebab tipu daya yang ia lakukan.
Kaum muslimin tak mengenal lagi syariah yang mesti dijalankan. Pejabat-pejabat senantiasa berbuat zhalim, menghalalkan pertumpahan darah, mengambil harta rakyat dengan batil, tapi anehnya apa yang mereka lakukan masih mendapatkan dukungan dari sekian ulama suu'. Kebencian terjadi dimana-mana hanya sebab perkara kecil, sebab fanatisme kesukuan, fanatisme golongan. Lalu apa solusi untuk menghadapi itu semua?, tak lain adalah dengan bergegas (mubadarah) dalam melakukan amal shaleh.
Sekian ragam amal-amal shaleh mesti kita usahakan, terutama dalam masalah shalat. Bagaimana kita memperbaiki shalat kita, dengan menegakkannya (iqamatusshalat), konsisten menjalankannya (mudawamah alasshalat), dan menjaganya (muhafazhah alasshalat), berusaha menjalankannya dengan berjamaah, sehingga seseorang kala shalatnya telah baik dan berkualitas, ia takkan lagi mau untuk mengikuti syahwat.
Fakholafa min ba'dihim kholfun adloussholat...Didalam shalat kita berulang-ulang membaca surat al-Fatihah, dan di dalam surat al-Fatihah ada sebuah doa yang selalu kita panjatkan, "Ihdinasshirathalmustaqim, Ya Allah tunjukkan kami jalan yang lurus", sehingga dengan pengulangan terus-menerus akan berpendar cahaya.
Beramal shaleh merupakan sebuah hal yang demikian berat, maka betapa begitu berat mengusahakan mubadarah (bergegas) dalam amal shaleh. Sehingga perlu dukungan hal lain, yakni kecintaan kita untuk berkumpul dengan orang shaleh. Dengan berkumpul dengan mereka kita akan menemukan sebuah metode yang mudah dan ringan untuk terlepas dari jeratan arus fitnah yang merongrong. Seorang muslim siapapun takkan pernah ada dalam wilayah aman dari arus fitnah yang menyerang.
Blogger Comment
Facebook Comment